1 Petrus 4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
Mengapa sebuah keluarga dapat tetap hidup bersama meskipun di dalamnya terdapat banyak perbedaan? Dalam sebuah keluarga, tidak selalu ada kesepakatan. Kita memiliki karakter, cara berpikir, kebiasaan, dan latar belakang yang berbeda. Bahkan, terkadang perkataan atau tindakan orang terdekat dapat membuat kita kecewa dan terluka. Namun, kasih membuat kita memilih untuk tetap bersama, saling menerima, dan saling mengampuni. Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan orang percaya. Dalam 1 Petrus 4:8-10, Rasul Petrus mengingatkan jemaat untuk tetap hidup dalam kasih di tengah penderitaan, penganiayaan, dan penolakan. Petrus menyadari bahwa kehidupan bersama tidak selalu mudah, tetapi kasih harus tetap menjadi dasar persekutuan. Ia berkata, “Kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”
Kasih yang sungguh-sungguh membuat kita mampu saling mengampuni. Kasih bukan hanya diberikan ketika seseorang menyenangkan hati kita atau ketika hubungan berjalan tanpa masalah. Kasih justru terlihat ketika kita berbeda pendapat, kecewa, melihat kelemahan orang lain, atau ketika hati kita terluka. Mengasihi berarti belajar menerima seseorang bukan hanya karena kelebihannya, tetapi juga bersedia memahami kekurangannya. Ketika kita mengingat kasih Kristus kepada kita, kita pun dipanggil untuk memberikan pengampunan kepada orang lain. Jangan biarkan kesalahan dan kekecewaan menjadi tembok yang memisahkan kita. Kasih membuka jalan untuk berdamai dan memulihkan hubungan. Karena itu, jika kita ingin tetap berjalan bersama dalam keluarga maupun persekutuan, kita perlu belajar melepaskan kepahitan dan memilih untuk mengampuni.
Kasih juga membuat kita mampu bertindak nyata. Petrus berkata, “Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.” Pada masa jemaat mula-mula, memberikan tumpangan merupakan bentuk kepedulian, penerimaan, dan kasih kepada sesama. Perintah ini juga mengingatkan kita bahwa kasih tidak cukup hanya diucapkan; kasih harus terlihat dalam tindakan. Terkadang kita memang sudah melakukan sesuatu bagi orang lain, tetapi hati kita masih dipenuhi keluhan. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga hati yang menyertai pelayanan tersebut. Karena itu, marilah kita belajar menghadirkan kasih melalui hal-hal sederhana: memberi perhatian, menolong ketika ada yang membutuhkan, menerima mereka yang berbeda dengan kita, dan hadir ketika seseorang sedang mengalami kesulitan. Dengan demikian, gereja dan persekutuan tidak menjadi sekadar tempat berkumpul, tetapi menjadi rumah di mana setiap orang mengalami penerimaan dan kepedulian.
Selanjutnya, kasih membuat kita mampu saling membangun. Setiap orang telah menerima karunia dari Tuhan, dan karunia tersebut diberikan agar kita dapat melayani serta menjadi berkat bagi orang lain. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama, tetapi setiap orang memiliki sesuatu yang dapat dipersembahkan kepada Tuhan. Ada yang dapat memberikan materi, ada yang memberikan tenaga, waktu, kemampuan, perhatian, bahkan doa. Seperti seseorang yang tidak memiliki cukup uang untuk mendukung pembangunan gereja, tetapi dengan sukacita memberikan waktunya untuk bekerja dan membantu pembangunan tersebut. Inilah wujud kasih yang nyata. Kasih membuat kita tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari persekutuan ini?”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan agar hidup saya menjadi berkat bagi orang lain?” Ketika setiap orang menggunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani, kita akan saling melengkapi dan bersama-sama membangun tubuh Kristus.
Kesimpulannya, kasih Kristus adalah dasar yang membuat kita tetap bersama. Kita mungkin berbeda karakter, pemikiran, dan latar belakang. Kita mungkin pernah kecewa, terluka, bahkan mengalami perbedaan yang sulit untuk disatukan. Namun, kasih mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah terhadap kebersamaan. Kasih menolong kita untuk saling mengampuni, mendorong kita untuk melakukan tindakan nyata, dan menggerakkan kita untuk saling membangun. Karena itu, janganlah kita hanya mencari orang-orang yang cocok dengan kita, tetapi marilah kita menjadi orang yang membawa kasih Kristus kepada siapa pun yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita. Biarlah keluarga kita, gereja kita, dan setiap persekutuan yang kita jalani menjadi tempat di mana orang mengalami kasih, penerimaan, pengampunan, dan pertumbuhan. Sebab ketika kasih Kristus menjadi dasar kehidupan kita, perbedaan bukan lagi alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi dan bersama-sama bertumbuh dalam Tuhan.
Penulis : Ev. Alvy Septian Irala, S.Th, M.M